Eky Casanova

HIDUP ADA TENTANG BAGAIMANA ANDA BERBUAT UNTUK ORANG BANYAK

Jappo

KESUKSESAN ITU ADALAH PERSEMBAHAN TERBAIK UNTUK ORANG-ORANG YANG KITA CINTAI

1988

AKU TERLAHIR BUKAN UNTUK MAIN-MAIN

MUHAMMAD RIZKI JAFRI

TERIMA KASIH KARENA TELAH MENGASIHI DAN MENCINTAI

Our Blog

GAYA KAMU - Karena senang dan sedih dapat dipelajari

JOIN DI KOMUNITAS KAMI : REGISTER

Apa yang Kamu rasakan saat bangun pagi? Apa yang spontan Kamu katakan saat kejadian luar biasa menimpa? Apa yang kamu rasakan saat jatuh cinta? Apa yang kamu rasakan saat kecewa? Itu semua adalah kebiasaan yang kita pelajari, baik disadari atau tidak disadari.
Kebanyakan orang mengira bahwa belajar itu urusan kepala, bahkan parahnya lagi mereka menganggap bahwa belajar itu adalah urusan kecerdasan. Kita membaca, diskusi, sekolah atau kuliah, adalah aktivitas belajar. Sementara aktivitas lainnya dianggap sebagai belajar tambahan, atau orang bilang mempunyai efek belajar. Sir Ken Robinson menggambarkan dengan anekdot yang usil. Dia mengatakan bahwa tubuh para profesor (sesungguhnya kita semua) adalah kendaraan untuk membawa kepala mereka ke pertemuan-pertemuan. Artinya, semakin kita dewasa, diri kita semakin menyusut ke kepala. Kita semakin mengabaikan keberadaan hati dan tubuh.

Setiap aktivitas kita, baik yang dilakukan oleh tubuh, kepala dan hati, selalu meninggalkan jejak belajar atau kesan-kesan pengetahuan yang kita tidk sadari. Jejak itu semakin lama akan semakin menciptakan kebiasaan. Misalnya saja guru atau dosen yang sering mengajar; Di sekolah atau kampusnya mungkin tidak hanya terdiri dari satu kelas untuk satu mata pelajaran atau mata kuliah. Untuk itu, dalam satu minggu, ia dapat mengajar materi yang sama di kelas-kelas tersebut. Pengalaman itu diulang-ulang seiring berjalannya waktu, sehingga menguatkan kelekatannya pada diri yang mengalami. Karena itulah guru atau dosen itu semakin menguasai mata pelajaran atau mata kuliah tersebut. Ini yang membentuk ingatan, baik yang disadari atau yang tidak (voluntary memory).
Kalau kita tengok definisi dari ingatan saja, secara sederhana dapat diartikan penyimpanan, pengodean dan penempatan, serta pemanggilan kembali informasi (tanda,tinanda dan penandaan). Jadi, jika disebut sebagai kemampuan mengingat atau daya ingat, maka orang dengan ingatan yang kuat memiliki kemampuan tersebut dengan baik. Tidak terkecuali jejak-jejak emosi yang kita alami.
Pengalaman kita tidak hanya melibatkan tubuh dan pikiran, tetapi juga hati. Karena itulah dalam diri kita juga ada jejak emosi. Kita yang sering mengalami kesedihan, maka akan membentuk pribadi yang penyedih alias galau. Begitu juga dengan yang sering berbahagia, maka akan menjadi pribadi yang bahagia.
Namun kebahagiaan dan kesedihan juga sebagai bagian dari belajar. Lho kok bisa senang dan galau dipelajari? Ketika kita terbiasa pada salah satu perasaan tersebut, maka kita akan cenderung merasakan itu, apapun situasinya. Yang biasa galau, maka ketika mendengarkan lelucon, akan banyak pertimbangan sebelum akhirnya memutuskan untuk tertawa. Karena itulah ada orang yang merasa kesepian dalam keramaian, misalnya dalam pesta yang meriah. Begitu juga yang terbiasa bahagia, maka ketika suasananya mengharu biru, dengan cepat bisa melihat sisi lucu, senang dan lebih optimis. Ini semua pilihan. Kamu pilih yang mana?
Karena itulah, jika sekarang kecenderungan kita melihat dari sisi gelap (sedih)nya, maka berarti kita punya default system yang sedih. Kita lebih baik belajar untuk membiasakan merasa bahagia. Jika ada waktu, lakukan kegiatan yang menyegarkan (refreshing), ngobrol dan bersenda gurau, menikmati senja, melihat tontonan komedi, bermain dengan anak-anak dan sebagainya. Itu adalah cara kita untuk menciptakan jejak-jejak kebahagiaan, dan pada akhirnya akan menjadi diri kita.
Contoh di paragraf sebelumnya menyebutkan ‘bermain dengan anak-anak’. Kenapa anak-anak? Mereka adalah figur yang bahagia. Artinya, anak-anak diciptakan dalam kondisi yang positif, dalam hal ini bahagia. Berarti kita dulu terlahir bahagia ya? Iya dong. Sayang kan kalau kita jadi pribadi yang mellow?
Berbicara tentang anak-anak, bagaiamana tentang belajar senang dan sedih ini? Anak-anak yang bahagia juga bisa belajar sedih. Kesedihan itu bagian dari diri. Jadi sedih itu memang kodrat alamiah. Jadi sedih tetap saja penting. Tapi jika kesedihan jadi template-nya, maka sangat disayangkan kalau anak-anak berubah menjadi penyedih.

Karena itu, kita harusnya kembali ke jejak-jejak kehidupan kita di masa lalu tentang apa yang sudah terjadi dalam hidup kita, pastinya hal itu punya peran mendukung terhadap setiap proses yang nantinya kita akan lalui, karena belajar bukan tentang apa yang harus kita kuasai tetapi tentang apa yang harus kita saksikan baik itu masa lalu, masa sekarang maupun masa yang akan datang. Jika orang di sekitar kita  adalah orang-orang yang galau, maka kita akan belajar tentang galau dan bahkan bisa juga kita menjadi pribadi yang penggalau (sadar ataupun tak sadar). Begitu juga ketik kita menunjukkan kepada kerabat terdekat kita dalam kesedihan, misalnya memarahinya, melarang, bahkan membencinya, maka kita sedang menciptakan siklus personal yang penyedih bagi yang terbawa suasana dekontruksi mental yang kita lakoni dan tunjukkan secara ekspresif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Authorism Theme

EKY CASANOVA

PENGURUS PUSAT VISASIA ENTREPRENEUR INDONESIA

ASAL

KABUPATEN TAKALAR

OWNER

MASSULENGKA

MOTTO

TETAP FOKUS PADA IMPIAN WALAUPUN KONDISI TAK MEMIHAK

Gambar tema oleh richcano. Diberdayakan oleh Blogger.