JOIN DI KOMUNITAS KAMI : REGISTER
Apa yang
Kamu rasakan saat bangun pagi? Apa yang spontan Kamu katakan saat kejadian luar
biasa menimpa? Apa yang kamu rasakan saat jatuh cinta? Apa yang kamu rasakan
saat kecewa? Itu semua adalah kebiasaan yang kita pelajari, baik disadari atau
tidak disadari.
Kebanyakan orang mengira bahwa belajar itu
urusan kepala, bahkan parahnya lagi mereka menganggap bahwa belajar itu adalah
urusan kecerdasan. Kita membaca, diskusi, sekolah atau kuliah, adalah aktivitas
belajar. Sementara aktivitas lainnya dianggap sebagai belajar tambahan, atau
orang bilang mempunyai efek belajar. Sir Ken Robinson menggambarkan
dengan anekdot yang usil. Dia mengatakan bahwa tubuh para profesor
(sesungguhnya kita semua) adalah kendaraan untuk membawa kepala mereka ke
pertemuan-pertemuan. Artinya, semakin kita dewasa, diri kita semakin menyusut
ke kepala. Kita semakin mengabaikan keberadaan hati dan tubuh.
Setiap
aktivitas kita, baik yang dilakukan oleh tubuh, kepala dan hati, selalu
meninggalkan jejak belajar atau kesan-kesan pengetahuan yang kita tidk sadari.
Jejak itu semakin lama akan semakin menciptakan kebiasaan. Misalnya saja guru atau
dosen yang sering mengajar; Di sekolah atau kampusnya mungkin tidak hanya
terdiri dari satu kelas untuk satu mata pelajaran atau mata kuliah. Untuk itu,
dalam satu minggu, ia dapat mengajar materi yang sama di kelas-kelas tersebut.
Pengalaman itu diulang-ulang seiring berjalannya waktu, sehingga menguatkan
kelekatannya pada diri yang mengalami. Karena itulah guru atau dosen itu
semakin menguasai mata pelajaran atau mata kuliah tersebut. Ini yang membentuk
ingatan, baik yang disadari atau yang tidak (voluntary memory).
Kalau
kita tengok definisi dari ingatan saja, secara sederhana dapat diartikan
penyimpanan, pengodean dan penempatan, serta pemanggilan kembali informasi
(tanda,tinanda dan penandaan). Jadi, jika disebut sebagai kemampuan mengingat
atau daya ingat, maka orang dengan ingatan yang kuat memiliki kemampuan
tersebut dengan baik. Tidak terkecuali jejak-jejak emosi yang kita alami.
Pengalaman
kita tidak hanya melibatkan tubuh dan pikiran, tetapi juga hati. Karena itulah
dalam diri kita juga ada jejak emosi. Kita yang sering mengalami kesedihan,
maka akan membentuk pribadi yang penyedih alias galau. Begitu juga dengan yang
sering berbahagia, maka akan menjadi pribadi yang bahagia.
Namun
kebahagiaan dan kesedihan juga sebagai bagian dari belajar. Lho kok bisa senang
dan galau dipelajari? Ketika kita terbiasa pada salah satu perasaan tersebut,
maka kita akan cenderung merasakan itu, apapun situasinya. Yang biasa galau,
maka ketika mendengarkan lelucon, akan banyak pertimbangan sebelum akhirnya
memutuskan untuk tertawa. Karena itulah ada orang yang merasa kesepian dalam
keramaian, misalnya dalam pesta yang meriah. Begitu juga yang terbiasa bahagia,
maka ketika suasananya mengharu biru, dengan cepat bisa melihat sisi lucu,
senang dan lebih optimis. Ini semua pilihan. Kamu pilih yang mana?
Karena
itulah, jika sekarang kecenderungan kita melihat dari sisi gelap (sedih)nya,
maka berarti kita punya default system yang sedih. Kita lebih baik belajar
untuk membiasakan merasa bahagia. Jika ada waktu, lakukan kegiatan yang
menyegarkan (refreshing), ngobrol dan bersenda gurau, menikmati senja, melihat
tontonan komedi, bermain dengan anak-anak dan sebagainya. Itu adalah cara kita
untuk menciptakan jejak-jejak kebahagiaan, dan pada akhirnya akan menjadi diri
kita.
Contoh
di paragraf sebelumnya menyebutkan ‘bermain dengan anak-anak’. Kenapa
anak-anak? Mereka adalah figur yang bahagia. Artinya, anak-anak diciptakan
dalam kondisi yang positif, dalam hal ini bahagia. Berarti kita dulu terlahir
bahagia ya? Iya dong. Sayang kan kalau kita jadi pribadi yang mellow?
Berbicara
tentang anak-anak, bagaiamana tentang belajar senang dan sedih ini? Anak-anak
yang bahagia juga bisa belajar sedih. Kesedihan itu bagian dari diri. Jadi
sedih itu memang kodrat alamiah. Jadi sedih tetap saja penting. Tapi jika
kesedihan jadi template-nya, maka sangat disayangkan kalau anak-anak berubah
menjadi penyedih.
Karena
itu, kita harusnya kembali ke jejak-jejak kehidupan kita di masa lalu tentang
apa yang sudah terjadi dalam hidup kita, pastinya hal itu punya peran mendukung
terhadap setiap proses yang nantinya kita akan lalui, karena belajar bukan
tentang apa yang harus kita kuasai tetapi tentang apa yang harus kita saksikan
baik itu masa lalu, masa sekarang maupun masa yang akan datang. Jika orang di
sekitar kita adalah orang-orang yang
galau, maka kita akan belajar tentang galau dan bahkan bisa juga kita menjadi
pribadi yang penggalau (sadar ataupun tak sadar). Begitu juga ketik kita menunjukkan
kepada kerabat terdekat kita dalam kesedihan, misalnya memarahinya, melarang,
bahkan membencinya, maka kita sedang menciptakan siklus personal yang penyedih
bagi yang terbawa suasana dekontruksi mental yang kita lakoni dan tunjukkan
secara ekspresif.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar